1. Lokasi. Kami cari sekolah yang sedekat mungkin dari rumah. Kasian kalau sekecil begini harus sekolah di tempat yang jauh, nanti udah keburu capek duluan di jalan.
2. Bahasa pengantar. Kami cari sekolah berbahasa pengantar Bahasa Indonesia.
3. Biaya. Sudah jelas kami cari sekolah sebagus mungkin dengan biaya seminim mungkin (hehehe, gak mungkin banget yak.. ). Yah paling tidak, terjangkau lah..
Pertimbangan nomer tiga paling bikin pusing, tentunya. Kami dapat banyak referensi pre-school, tapi kok biaya-nya sangat tidak masuk akal. Di salah satu preschool yang kami datangi, uang pangkalnya dua kali lipat dari biaya kuliah mama-nya Ken-chan mulai dari semester pertama sampai lulus! Saya dan bapaknya si Ken jadi penasaran, apa sih yang diajarin.. kok bayarnya bisa berjuta-juta gitu??
Karena penasaran itulah, si Ken-chan dibawa trial ke beberapa sekolah. Semuanya berlokasi di seputaran Kebayoran Baru, area tempat tinggal kami. Dari segi bangunan sekolah dan fasilitas bermain, semuanya kinclong! Mainannya banyak, kelas ber-AC dan malah ada yang dilengkapi dgn kolam renang. Tapi dari segi kurikulum pelajaran, ternyata semuanya biasa aja. Nggak ada yang istimewa. Nggak jauh-jauh dari mewarnai, menggunting, menempel, mengenal huruf dan warna, menyanyi.. ya seputar itulah. Komposisi antara belajar di dalam kelas dengan diluar kelas (saat anak menggunakan fasilitas bermain yang kinclong-kinclong itu) ternyata juga jauh lebih banyak di dalam kelas. Daaaan... hampir semua memakai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Dari pengalaman trial sana-sini itu, kami lantas mengambil kesimpulan pribadi bahwa banyak preschool di Jakarta yang overrated and overpriced. Hal-hal yang diajarkan di sekolah-sekolah itu sebenarnya bisa dipelajari sambil bermain dirumah sendiri. Toh mama-nya Ken-chan ibu rumah tangga, punya banyak waktu untuk ngajarin Ken-chan ini dan itu, dan papa-nya Ken-chan profesinya pendidik. Bukan sombong bukan congkak, tapi sebelum masuk sekolah, si Ken-chan antara lain sudah bisa ini:
- bisa mengidentifikasi huruf dari A sampai Z
- bisa berhitung dari 1-20 dalam Bahasa Indonesia dan 1-13 dalam Bahasa Inggris dan 1-10 dalam bahasa Jepang
- mengenal semua warna primer dan mulai menguasai warna-warna sekunder
- bisa bikin sendiri beberapa bentuk origami sederhana
- mewarnai walaupun masih berantakan, tapi sudah belajar mengenal batas bidang
- sudah lihai pengoperasian sederhana komputer dan main game. Game keluaran Nicklodeon seperti Diego, Dora, Blues Clues, The Bakcyardigans sudah bolak-balik tamat. Kalau dia mau main komputer, dia nyalain sendiri.. mulai dari pencet tombol travo, nyalain komputer, buka file game, main dan kalo udah selesai komputerya dia matikan sendiri.
- bisa menerapkan kemandirian dan disiplin sederhana.. misalnya mau masuk rumah copot sepatu dan sepatu disimpan ditempatnya, makan sendiri, ambil minum sendiri, cuci tangan sendiri.
Belajarnya dimana? Dirumah... sama Mama-Papa :)
Dari semua yang bisa ter-cover dirumah, hanya satu yang kami akui memang tidak bisa terakomodir: sosialisasi! Ken-kun jelas butuh teman seusia. Jaman sekarang di Jakarta mana ada model 'main sama anak tetangga'. Tapi itupun gak membuat kami lantas jadi terburu-buru masukkin Ken-chan ke sekolah. Selagi Ken-chan masih umur 2 tahun dan pola bermainnya masih individual (bermain sendiri), kami nggak buru-buru masukkin Ken-chan ke sekolah. Sebaliknya, kami pilih homeschooling.. mendidik Ken-chan sendiri dirumah. Setelah si Ken umurnya 3 tahun dan pola bermainnya sudah beralih ke pola paralel, barulah kami merasa perlu menyediakan sarana bersosialisasi untuk Ken-chan.
Untungnya, sebulan setelah Ken-chan ulang tahun yang ke-3, kami berhasil menemukan KB/TK Kreatif Komimo (Si Komo Children Center), pra-sekolah yang alhamdulillah bisa memenuhi tiga syarat tadi. Lokasinya dekat dari rumah (5 menit naik mobil), berbahasa pengantar Bahasa Indonesia dan biayanya tergolong 'masuk akal'. Dari segi bangunan dan fasilitas bermain memang kalah kinclong dari sekolah-sekolah mahal, tapi metode pengajaran dan kurikulum-nya cukup memenuhi ekspektasi kami. Sebulan dua kali ada acara diluar sekolah dan school trip. Walaupun sekolah ini tidak dilengkapi kolam renang, tapi sebulan sekali ada acara berenang bersama yang biayanya sudah termasuk dalam uang sekolah.
Karena penasaran itulah, si Ken-chan dibawa trial ke beberapa sekolah. Semuanya berlokasi di seputaran Kebayoran Baru, area tempat tinggal kami. Dari segi bangunan sekolah dan fasilitas bermain, semuanya kinclong! Mainannya banyak, kelas ber-AC dan malah ada yang dilengkapi dgn kolam renang. Tapi dari segi kurikulum pelajaran, ternyata semuanya biasa aja. Nggak ada yang istimewa. Nggak jauh-jauh dari mewarnai, menggunting, menempel, mengenal huruf dan warna, menyanyi.. ya seputar itulah. Komposisi antara belajar di dalam kelas dengan diluar kelas (saat anak menggunakan fasilitas bermain yang kinclong-kinclong itu) ternyata juga jauh lebih banyak di dalam kelas. Daaaan... hampir semua memakai bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Dari pengalaman trial sana-sini itu, kami lantas mengambil kesimpulan pribadi bahwa banyak preschool di Jakarta yang overrated and overpriced. Hal-hal yang diajarkan di sekolah-sekolah itu sebenarnya bisa dipelajari sambil bermain dirumah sendiri. Toh mama-nya Ken-chan ibu rumah tangga, punya banyak waktu untuk ngajarin Ken-chan ini dan itu, dan papa-nya Ken-chan profesinya pendidik. Bukan sombong bukan congkak, tapi sebelum masuk sekolah, si Ken-chan antara lain sudah bisa ini:
- bisa mengidentifikasi huruf dari A sampai Z
- bisa berhitung dari 1-20 dalam Bahasa Indonesia dan 1-13 dalam Bahasa Inggris dan 1-10 dalam bahasa Jepang
- mengenal semua warna primer dan mulai menguasai warna-warna sekunder
- bisa bikin sendiri beberapa bentuk origami sederhana
- mewarnai walaupun masih berantakan, tapi sudah belajar mengenal batas bidang
- sudah lihai pengoperasian sederhana komputer dan main game. Game keluaran Nicklodeon seperti Diego, Dora, Blues Clues, The Bakcyardigans sudah bolak-balik tamat. Kalau dia mau main komputer, dia nyalain sendiri.. mulai dari pencet tombol travo, nyalain komputer, buka file game, main dan kalo udah selesai komputerya dia matikan sendiri.
- bisa menerapkan kemandirian dan disiplin sederhana.. misalnya mau masuk rumah copot sepatu dan sepatu disimpan ditempatnya, makan sendiri, ambil minum sendiri, cuci tangan sendiri.
Belajarnya dimana? Dirumah... sama Mama-Papa :)
Dari semua yang bisa ter-cover dirumah, hanya satu yang kami akui memang tidak bisa terakomodir: sosialisasi! Ken-kun jelas butuh teman seusia. Jaman sekarang di Jakarta mana ada model 'main sama anak tetangga'. Tapi itupun gak membuat kami lantas jadi terburu-buru masukkin Ken-chan ke sekolah. Selagi Ken-chan masih umur 2 tahun dan pola bermainnya masih individual (bermain sendiri), kami nggak buru-buru masukkin Ken-chan ke sekolah. Sebaliknya, kami pilih homeschooling.. mendidik Ken-chan sendiri dirumah. Setelah si Ken umurnya 3 tahun dan pola bermainnya sudah beralih ke pola paralel, barulah kami merasa perlu menyediakan sarana bersosialisasi untuk Ken-chan.
Untungnya, sebulan setelah Ken-chan ulang tahun yang ke-3, kami berhasil menemukan KB/TK Kreatif Komimo (Si Komo Children Center), pra-sekolah yang alhamdulillah bisa memenuhi tiga syarat tadi. Lokasinya dekat dari rumah (5 menit naik mobil), berbahasa pengantar Bahasa Indonesia dan biayanya tergolong 'masuk akal'. Dari segi bangunan dan fasilitas bermain memang kalah kinclong dari sekolah-sekolah mahal, tapi metode pengajaran dan kurikulum-nya cukup memenuhi ekspektasi kami. Sebulan dua kali ada acara diluar sekolah dan school trip. Walaupun sekolah ini tidak dilengkapi kolam renang, tapi sebulan sekali ada acara berenang bersama yang biayanya sudah termasuk dalam uang sekolah.

Salah satu yang menyenangkan adalah di sekolah ini diajarkan lagu anak-anak berbahasa Indonesia seperti Naik Kereta Api, Lihat Kebunku, Pohon Jambu.... lagu-lagu yang memang sepantasnya dinyanyikan anak kecil. Prihatin kan, liat anak singkong pada nyanyi Madu Tiga-nya Dhani? Ckckckck....
Sekarang, resminya sudah tiga bulan Ken-chan bersekolah :) Masuknya memang termasuk 'telat', soalnya teman2-nya sudah masuk sejak umur 2 tahun. Tapi walaupun begitu, dia cukup bikin orang tuanya bangga karena ternyata, walaupun dia 'produk homeschooling', kemampuannya nggak ketinggalan dari anak-anak lain.
Sekarang, resminya sudah tiga bulan Ken-chan bersekolah :) Masuknya memang termasuk 'telat', soalnya teman2-nya sudah masuk sejak umur 2 tahun. Tapi walaupun begitu, dia cukup bikin orang tuanya bangga karena ternyata, walaupun dia 'produk homeschooling', kemampuannya nggak ketinggalan dari anak-anak lain.

Dari pengalaman ini kami ingin berbagi, buat bapak-bapak dan ibu-ibu yang lagi cari sekolah untuk anaknya, supaya nggak 'silau' sama duit. Sekolah mahal dengan fasilitas mewah belum tentu menjamin anaknya pasti jadi super pinter loh :) Bagaimanapun peran pendidikan dan perhatian dari orang tua tetap nomer satu. Mengajari anak sendiri dirumah justru lebih efektif... dan gratis!


























